Home
 Prakata
 Profil Perusahaan
 Jasa Layanan
 Gallery Foto
 Info Tempat Ziarah
 Online Hotel Reservation
 Promosi
 Informasi Suhu rata-rata
 Hubungi Kami

 

PT. STELLA KWARTA WISATA
Kompleks B.H.P Blok F-30
Jakarta 13550 - Indonesia
Tel. : (021) 877 94 878 
Fax. : (021) 877 94 877
Kontak Email :  

Keuntungan Tour | Tips Trik wisata | Syarat dan Kondisi Tour


GUADALUPE di Mexico City

Akhir tahun 1520 pasukan Spanyol di bawah komando Herman Cortes mendarat di pantai pusat kebudayaan Indian Aztec yang kini dikenal sebagai Mexico City. Cortes yang taat kepada Katolik meminta imam-imam Fransiskan ikut membantu menyebarkan agama Katolik sekaligus menyatukan suku-suku yang bertikai. Kemudian untuk mengisi kekosongan uskup di tempat yang baru itu, Raja Charles V mengutus Pastor Juan de Zumarraga yang kemudian menjadi uskup setempat.

Pada subuh yang dingin 9 Desember 1531, seorang petani yang sudah menjadi duda dalam usia 50 tahun yang belum lama dibaptis dan menggantikan namanya dari “Elang Bernyanyi” menjadi JUAN DIEGO, keluar dari rumahnya di desa Tolpetlac dekat Cuautitlan Mexico. Ia bergegas pada Sabtu pagi itu menuju Tlatelolco untuk menghadiri Misa. Ia memang setiap hari menghadiri Misa. Pagi itu ia berjalan melintas bukit Tepeyac melewati beberapa punggung bukit menuju Tlatelolco dekat Mexico City.

Ketika melintasi punggung bukit, ia mendengar suara orang menyanyi. Suara seorang wanita. Dari tempat suara ia melihat awan putih muncul membentuk pelangi. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tengah-tengah awan dan menjadi terang benderang. Ia melihat seorang wanita yang sangat cantik berdiri di depan awan. Pakaiannya bersinar berkilapan keemasan.

Juan Diego menunduk dalam sikap berlutut. Wanita itu kemudian berkata dalam bahasa setempat : “Anakku, Juan Diego, kemana engkau pergi ?” “Yang Mulia” katanya, “Saya dalam perjalanan menuju gereja di Tlatelolco untuk menghadiri Misa.” Kemudian Wanita itu berkata : “Engkau harus tahu dan yakin dalam hatimu, anakku, bahwa Aku benar-benar Perawan Maria, bunda tersuci Allah yang benar yang menciptakan semua makhluk yang hidup dan penguasa Surga dan Bumi. Saya ingin dan sangat mengharapkan agar di tempat ini dibangun sebuah gereja. Aku ingin sekali menunjukkan dan membuat semua orang tahu aku ingin memberi kasihku, pertolonganku dan perlindungan kepada semua orang. Aku adalah bundamu yang penuh belas kasihan, bunda dari kamu semua yang tinggal di tempat ini dan bunda semua orang, mereka yang mencintai aku bunda dari mereka yang minta pertolonganku, mereka yang mencari aku, mereka yang percaya kepadaku. Di sini aku akan mendengar ratap tangisan mereka, keluh kesah dan akan memberi penyembuhan sekaligus meringankan penderitaan mereka, ketidakberdayaan dan kemalangan mereka.”

“Dan agar apa yang aku katakan diketahui, engkau harus pergi ke kediaman Uskup Mexico dan mengatakan kepadanya bahwa Aku mengirim engkau dan merupakan keinginanku di tempat ini dibangun sebuah gereja.”

Bunda Maria datang untuk membuat pengumuman siapa sebenarnya diriNya. Bunda Maria datang untuk memanggil semua orang yang tinggal di Mexico untuk “hidup dalam satu kesatuan” dan minta menyatakan akan membantu mereka, akan memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan bantuanNya.

Juan Diego bergegas ke kediaman Mgr. Zumarraga. Mula-mula ia agak ragu-ragu. Ia menyadari dirinya seorang Indian yang tidak dikenal. Menjelang malam ia datang lagi ke bukit. Bunda yang bercahaya sudah menunggu dia di sana. Rupanya persis sama dengan wanita yang ia lihat pada pagi harinya. Ia minta agar wanita itu mengirim orang lain menghadap Uskup karena ia menyadari, “Saya hanya seorang yang miskin. Saya merasa tidak layak hadir di tempat uskup sebagaimana diminta. Maafkan saya ya Ratu. Saya tidak bermaksud menyakiti hatimu, saya tidak ingin menyakiti hatimu.”

Tetapi Bunda Maria menegaskan bahwa ia menghendaki Juan dan bukan orang lain. Dialah yang diminta untuk menyampaikan pesan Maria kepada Mgr. Zumarraga lagi sekali pada hari berikutnya. Juan meninggalkan wanita itu sambil menyapanya dengan “Ratu-ku”.

Keesokan harinya tanggal 10 Desember adalah hari minggu. Setelah Misa, Diego mendatangi kediaman Uskup dan setelah lama menunggu karena mendapat kesulitan dari penjaga, ia diijinkan masuk. Uskup mengajukan sejumlah pertanyaan mengacu kepada pribadi wanita yang ia lihat. Kalau benar ia adalah Bunda Tuhan, ia diminta memberi bukti. Kemudian Uskup mengirim dua orang untuk menyertai Juan Diego tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Sore harinya Juan Diego kembali lagi ke bukit Tepeyac, dimana Bunda Maria sudah menunggu dan memberi kepastian kepadanya bahwa keesokkan harinya ia akan memberi tanda sebagaimana diminta Uskup setempat. Tetapi ketika ia tiba di rumah sore harinya, ia menemukan pamannya Juan Bernardino sedang sakit keras. Sepanjang Senin tanggal 11 Desember ia merawat pamannya sampai tidak sempat kembali ke Uskup Zumarraga atau ke Tepeyac. Juan Bernardino merasa ia sedang dalam sakratul maut karena itu minta keponakannya kembali ke Tlatelolco untuk minta seorang imam memberikan sakramen orang sakit.

Pada hari Selasa tanggal 12 Desember, Juan Diego tidak berani melewati tempat ia mendapat penampakan. Namun ketika ia melewati lereng yang jauh dari tempat itu, Bunda Maria mendekati dia dan bertanya ia mau kemana. Diego menerangkan maksudnya yakni memanggil imam untuk memberi sakramen kepada pamannya yang sakit. Bunda Maria menjawab : “ Dengarlah baik-baik dan yakinlah, anakku yang terkasih, saya akan melindungimu; jangan takut atau gelisah, atau membiarkan hatimu sedih walaupun penyakit yang dialami pamanmu sangat serius. Bukankah aku hadir di sini ? Aku adalah ibumu dan bukankah aku adalah tempat pelarian ? Bukankah aku mengasihimu ? Jangan terlalu menghiraukan penyakit yang dialami pamanmu karena ia tidak segera mati sebagaimana dikatakannya. Yakinlah kini, ia kini sudah sembuh. Apakah ada sesuatu yang engkau butuhkan ?”

Kemudian Bunda mengajak Juan Diego untuk mendaki bukit dan ia akan menemukan kembang yang sedang mekar di sana. Kembang itu agar dibawa kepada Bunda Maria. Bukit itu adalah bukit yang gersang yang hanya bisa ditumbuhi kaktus dan belukar-belukar. Juan Diego belum pernah melihat ada bunga di sana. Tetapi ketika ia tiba di sana, tempat itu dipenuhi bunga mawar yang masih segar, dipenuhi embun dan memancarkan harum. Maria mengambil mawar-mawar yang telah dipetik dan merangkaikannya di dalam lipatan-lipatan tilma Diego (Mantel kasar yang dipakai petani-petani suku Indian di Mexico) kemudian menyerahkan kembali kepada Juan.

“Inilah tanda yang harus engkau bawa kepada Uskup-mu. Atas nama-Ku katakan kepadanya bahwa dengan ini dia akan melihat dan mengabulkan keinginanku dan ia harus melakukan apa yang aku minta. Engkau adalah utusan yang menjadi kepercayaanku. Aku minta agar engkau hanya mengatakan apa yang aku pesankan kepada Uskup dan engkau harus menjelaskan kepadanya bagaimana aku minta engkau mendaki bukit untuk mengumpulkan bunga-bunga ini. Katakan kepadanya juga semua yang engkau lihat sehingga engkau akan meyakinkan Uskup mu bahwa aku minta agar di tempat ini didirikan gereja “.

Ketika tiba di depan rumah Uskup , Diego harus menunggu cukup lama karena dihalang-halangi para penjaga yang dengan penuh rasa ingin tahu ingin mengambil mawar-mawar dari mantel Diego. Namun begitu mereka mengulurkan tangan, mereka tidak dapat mengambilnya karena bukan mawar yang sebenarnya melainkan terpateri di mantelnya. Ketika bertemu Uskup, Diego membuka mantelnya dan mawar-mawar berjatuhan ke lantai. Dan di mantelnya tertera gambar Bunda Tuhan dalam pakaian Indian. Tangannya terkatup dalam sikap berdoa, rambutnya yang hitam lembut terurai sampai ke bahunya. Wajahnya berbentuk bulat oval dan matanya setengah tertutup. Senyum merekah di bibirnya.

Bapa Uskup Zumarraga dan beberapa orang lain yang ada di dalam ruangan tersebut tercenung dan terdiam sesaat, selanjutnya berlutut dan tenggelam dalam hormat yang penuh kekaguman. Ketika pada akhirnya Bapa Uskup bangkit berdiri, beliau memeluk Juan Diego dan meminta maaf atas keragu-raguannya. Dengan hati tulus, Bapa Uskup minta kepada Juan Diego untuk bermalam di kediamannya dan berjanji keesokan harinya akan mengantarkan Juan Diego ke tempat dimana Bunda Maria menampakkan diri. Tilma tersebut kemudian dilepaskan oleh Bapa Uskup dengan penuh hormat dari badan Juan Diego dan menempatkannya di ruang doa pribadi supaya beliau dapat menghormatinya dengan sepenuh hati.

Berita ini ternyata dengan cepat meluas. Keesokan harinya “gambar” Bunda Maria tersebut diarak dengan agung menuju ke Katedral dengan dihadiri oleh banyak orang. Bapa Uskup kemudian berkunjung juga ke tempat penampakkan dan beliau memutuskan untuk segera dibangun sebuah gereja di tempat tersebut. 

Disarikan oleh : FA. Arijanto


Basilika Guadalupe


“Bagian dalam Basilika yang menyimpan Tilma (Jubah) dari
Juan Diego yang bergambarkan Bunda Maria, sebuah tanda
kehadiran dari Ibu Maria sendiri. Berdasarkan penyelidikan,
zat yang terdapat pada gambar tersebut tidak terdapat di dunia ini.