|
Petra, sebuah tempat di selatan Negara Jordania, yang merupakan daerah Edom, terletak di antara Laut Mati dan Teluk Aqaba. Dalam bahasa Yunani, “Petra“ berarti kota dari batu. Dalam Perjanjian Lama tempat ini disebut sebagai Sela : “Ia mengalahkan Edom di Lembah Asin, sepuluh ribu orang banyaknya, dan merebut Sela dalam peperangan itu, lalu dinamainyalah kota itu Yokteel; begitulah sampai hari ini” (2 Raja 14:7). Daerah ini menjadi ibu kota serta tempat pertahanan Kerajaan Nabatean sejak abad ke 4 SM sampai abad ke 2 M. Semua peninggalan bangunan dan makam di tempat ini dipahat pada Bukit Tebing Batu berwarna kemerah-merahan. Itulah sebabnya tempat ini pun dikenal sebagai
“The Red Rose City”. Kerajaan Romawi menaklukkan tempat ini pada tahun 106 M dan dijadikan salah satu dari propinsi Romawi. Kota ini sendiri terus berkembang di abad ke 2 and ke 3 M, sampai kota saingan mereka, Palmyra mengambil alih sebagian besar kegiatan perdagangan Petra, sehingga kota ini pun menurun kegiatan perdagangannya. Pada abad ke 7 tempat ini ditaklukkan oleh Muslim, dan pada abad ke 12 ditaklukkan juga oleh Pejuang Salib. Dan pada akhirnya kota ini hanya menjadi reruntuhan saja.
Situs kuno Petra ditemukan kembali oleh seorang penjelajah Swiss bernama Johann Burckhardt pada tahun 1812. Benteng-benteng yang kokoh, sangat menyolok keindahannya dan terletak pada tebing-tebing yang sempit dan tinggi, dan di beberapa tempat jarak antar 1 tebing dengan tebing yang lain hanya 3,7 meter. Dan di dinding-dinding tebing inilah dipahat secara alami bangunan-bangunan indah seperti : Khaznet Firaoun, Treasury Petra yang indah, teater pertunjukan yang dapat menampung 3000 penonton serta bangunan lainnya. Kesemua bangunan tersebut dipahat di bukit batu berwarna kemerah-merahan. Peninggalan di Petra menunjukkan kejayaan serta kemakmuran tempat ini dahulunya.
Penghuni asli Petra, orang Nabatean (Arab = Al-Anbaat), adalah para pedagang dari daerah selatan Jordania, Kanaan dan bagian utara semenanjung Arab di masa kuno. Asal usul sebenarnya dari orang Nabatean tidak terlalu jelas. Beberapa pendapat mengatakan keberadaan orang Nabatean di Petra (Sela) yang sebelumnya adalah ibukota Kerajaan Edom adalah karena migrasi orang Edom ke daerah Judea yang kosong (akibat orang Yahudi di Judea saat itu yang dibuang ke Babilonia oleh Raja Nebukadnezar), sehingga orang Nabatean sendiri mengambil alih kota Petra, dan mulai tinggal serta mengembangkan kerajaan di tempat ini.
Orang Nabatean menyembah dewa dewi Arab sebelum masa Islam, serta juga mereka mendewakan raja-raja mereka yang sudah mati. Dushara merupakan dewa paling utama bagi mereka beserta dewi Uzza, Allat dan Manah. Banyak patung-patung dipahat di dinding tempat ini untuk menggambarkan dewa dewi mereka. Salah satu raja mereka yang paling besar yang didewakan adalah Obodas I ( yang didewakan setelah kematiannya ). Bangunan yang paling terkenal di Petra (Treasury of Petra) yang dibangun pada awal abad I sebelum masehi didedikasikan kepada raja ini.
500 tahun setelah dibangunnya kota Petra sebagai kota perdagangan, yaitu sekitar abad ke 4 masehi, orang-orang Kristen Bizantium juga datang ke Petra. Athanasius Agung (Bapa Gereja Awal) menyebutkan dalam salah satu tulisannya bahwa Uskup Petra saat itu bernama Asterius. Bahkan ditemukan bukti bahwa salah satu bekas makam di tempat ini dijadikan Gereja.
Kekristenan di Petra hilang semenjak datangnya Islam ke tempat ini pada tahun 629-632. Para pejuang Perang Salib juga menaklukkan tempat ini, dibawah pimpinan Raja Baldwin I dari Kerajaan Jerusalem.
|
 Treasury
of Petra
|
 Theater
of Petra
|
|